Pemkab Wonosobo Gagas Sekolah Siaga Kependudukan

Peresmian Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) di Gedung Serbaguna SMA Muhammadiyah Wonosobo, pada Rabu (20/11/2019). (Foto Pemkab Wonosobo)

Wonosobo – Pemerintah Kabupaten Wonosobo melalui Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBPPA) merintis Sekolah Siaga Kependudukan (SSK). Untuk menjalankan program tersebut, dinas menggandeng 3 sekolah, yaitu SMA Muhamadiyah Wonosobo, SMA Negeri 1 Wonosobo, dan SMP Negeri 1 Sukoharjo.

Ketiga sekolah tersebut diresmikan sebagai bagian dari SSK, pada Rabu (20/11/2019), dalam acara pencanangan oleh Wakil Bupati Agus Subagiyo dan sejumlah pejabat terkait, di Gedung Serbaguna SMA Muhammadiyah Wonosobo.

Wakil Bupati, Agus Subagiyo, dalam kegiatan tersebut memberi pesan ke seluruh sekolah di Wonosobo agar dapat menerapkan Sekolah Siaga Kependudukan.

“Saya menghimbau, karena SSK ini sangat positif agar bisa diterapkan di semua sekolah, baik di jenjang menengah atas dan kejuruan maupun SMP dan Sekolah Dasar,” ujar Agus dalam laman resmi Pemkab Wonosobo.

Dampak Positif SSK

Dilansir dari laman resmi Pemkab Wonosobo, dengan menerapkan Siaga kependudukan, nilai positif bagi para pelajar sangat banyak. Hal tersebut dikarenakan di sekolah mereka akan belajar mengenai tata kelola kependudukan.

Wabup juga menambahkan, melalui SSK dapat dihindari 3 bahaya yang mengancam masa depan pelajar. Ketiga bahaya tersebut, menurut Agus yaitu bahaya seks pranikah, narkoba, dan bahaya penyakit menular seksual.

“Jadi sangat penting setiap siswa di sekolah agar menghindari ketiga bahaya ini, karena efek negatifnya sudah jelas, termasuk hancurnya masa depan maupun tungginya angka perceraian di Kabupaten Wonosobo ini,” jelas Wabup.

Sementara itu, Kepala Dinas PPKBPPA, Junaedi, juga menyebutkan bahwa disiapkannya ketiga sekolah tersebut sebagai SSK menjadi bagian dari upaya menekan dampak pergaulan bebas antar remaja. Para pelajar sebagai agen perubahan dan motor penggerak pembangunan bangsa di masa depan dinilai Junaedi layak untuk diperkuat kesadarannya terhadap kependudukan.

“Maka simbol Generasi Berencana (Genre) para pelajar ini adalah mengangkat ketiga jari, sementara jari telunjuk dan ibu jari membentuk angka nol,” pungkas Junaedi.

Add Comment