Satgas Diminta Lebih Optimal Awasi Perederan Obat, Kosmetik, dan Makanan Ilegal

Rapat Evaluasi Satgas Pemberantasan Obat dan Makanan Ilegal Kabupaten Wonosobo Tahun 2019, Senin (16/12/19) di Ruang Kertonegoro Setda. (Foto: Pemkab Wonosobo)

Wonosobo Timur – Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Obat dan Makanan Ilegal Kabupaten Wonosobo, harus lebih optimal dalam mengawasi peredaran obat, kosmetik, dan makanan ilegal. Hal ini disampaikan Asisten Pembangunan Sekda, Sumaedi, saat memimpin Rapat Evaluasi Satgas Pemberantasan Obat dan Makanan Ilegal Kabupaten Wonosobo Tahun 2019, Senin (16/12/19) di Ruang Kertonegoro Setda.

Menurutnya, saat ini peredaran obat dan makanan ilegal semakin marak, seiring dengan perkembangan perdagangan dunia, dengan kemudahan akses informasi dan pemasaran.

“Minimnya pengetahuan masyarakat akan adanya peredaran obat dan makanan ilegal, termasuk bahayanya, menjadikan semakin suburnya peredaran obat dan makanan ilegal di seluruh Indonesia bahkan dunia saat ini, termasuk di Wonosobo,” ujar Sumaedi dalam laman resmi Pemkab Wonosobo.

Hal ini menjadikan perhatian khusus dan serius dari Pemerintah Pusat. Melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, yang menyuarakan untuk bersama memerangi dan menanggulangi peredaran obat dan makanan ilegal, yang sangat membahayakan kesehatan dan bahkan dapat menimbulkan kematian bagi yang mengkonsumsinya.

Tingginya penyalahgunaan dan penggunaan obat secara bebas yang tidak sesuai aturan, obat tradisional mengandung bahan kimia obat, kosmetika dan pangan mengandung bahan dilarang atau berbahaya, menimbulkan berbagai macam penyakit, baik yang langsung dirasakan maupun dalam jangka panjang. Kerugian ekonomi yang juga turut dirasakan oleh para produsen asli dari peredaran obat dan makanan ilegal ini, turut mengusik para pelaku dunia usaha untuk bersama memberantas peredarannya.

Optimalkan Koordinasi

Satgas diminta untuk lebih mengoptimalkan koordinasi, kepedulian dan kewaspadaan terhadap penggunaan obat, kosmteik dan makanan ilegal, serta mengajak peran aktif masyarakat. Khususnya jika ditemukan obat, kosmetik atau pangan ilegal, masyarakat bisa melaporkan langsung ke Satgas atau OPD terkait, seperti Dinas Kesehatan.

Kegiatan yang selama ini sudah dilakukan, seperti monitoring ke lapangan dalam rangka memutus rantai dan peredaran obat, kosmetik dan makanan ilegal, penangkalan, pencegahan dan penegakan hukum, serta melindungi masyarakat dari obat, kosmetik dan makanan illegal, termasuk melakukan pertemuan evaluasi untuk membahas hasil monev tersebut, harus ditingkatkan frekuensinya dan kerap dilakukan koordinasi dengan instansi vertikal, seperti BPOM, agar tidak terjadi tumpang tindih kewenangan.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo, Junaedi, selaku Ketua II Satgas, menyampaikan bahwa dari hasil pengawasan obat, khususnya obat tradisional dan kosmetika, masalah yang kerap dijumpai Satgas adalah sanitasi yang tidak higienis, Obat Tradisional Tanpa Ijin Edar, Obat Tradisional Mengandung Bahan Kimia Obat (BKO) serta periklanan obat dan kosmetika yang belum sesuai etika dan peraturan perundang-undangan.

Selain itu, permasalahan paling menonjol dari tahun ke tahun di Kabupaten Wonosobo adalah berkaitan dengan penggunaan bahan kimia obat dan produk tanpa izin edar (TIE). Akan tetapi, produk pangan yang mengandung bahan berbahaya tersebut, tidak semuanya berasal dari wilayah Kabupaten Wonosobo saja, tapi juga dari Kabupaten/Kota lain di Jawa Tengah maupun luar Jawa Tengah, seperti ikan teri dan lanting dari Kebumen, serta mie basah, yang marak beredar beberapa tahun lalu, berasal dari Magelang.

Add Comment